Maroko, Bangsa Jajahan Yang Taklukkan Penjajahnya

Caption: Jersey "tuan rumah" Maroko sekilas mirip dengan Portugal.

Maroko, Bangsa Jajahan Yang Taklukkan Penjajahnya

Jika kita melihat dan belajar sejarah dunia, maka kita akan dapati sebagian besar peserta babak perempat final piala dunia 2022 ini dikenal sebagai bangsa penjajah (kolonial). Sebut saja ada Perancis, Belanda, Inggris, Portugal (Portugis). Keseluruhannya merupakan bangsa Eropa.

Hanya Kroasia sebagai negara kecil di Eropa yang bukan. Sementara yang lainnya, Argentina dan Brazil mewakili benua Amerika (Selatan). Dan terakhir, Singa Atlas Maroko mewakili benua Afrika, yang justru salam sejarahnya dikenal sebagai negara jajahan.

Uniknya, Maroko berhasil menyingkirkan Spanyol yang dulu sempat menjajah Maroko. Hal ini menunjukkan negara penjajah tidak lagi Adi Kuasa terhadap negara jajahannya. Pada babak perempat final, kembali mereka akan berhadapan dengan Portugal (mengalahkan Swiss 6-1) yang dulu juga sempat ingin menguasai Maroko namun gagal.

Protectorado EspaƱol de Marruecos adalah wilayah Maroko yang berada di bawah kekuasaan kolonial Kekaisaran Spanyol melalui Traktat Fez tahun 1912. Kekuasaan Spanyol di Maroko berakhir pada tahun 1956, ketika Prancis dan Spanyol mengakui kemerdekaan Maroko.

Nama Inggris Maroko, yakni Morocco, berasal dari kata Spanyol, Marruecos, yang diambil dari bahasa Latin abad pertengahan, Morroch, yang merujuk pada bekas ibukota Almoravid and Almohad, Marrakesh. Di dalam bahasa Parsi dan Urdu, Maroko secara sederhana disebut Marrakesh, seperti nama di masa pra-modern Arab.

Di abad ke-7 M, tepatnya pada tahun 670 M, pasukan Umayyah yang dipimpin Uqba ibn Nafi menaklukkan Afrika Utara. Orang-orang Arab membawa adat kebiasaan, budaya dan agama Islam. Orang-orang Barber beramai-ramai memeluk Islam dan beberapa kerajaan Islam berukuran kecil berdiri di kawasan itu seperti Kerajaan Nekor dan Kerajaan Barghawata.

Setelah Perang Napoleon, Mesir dan Afrika Utara perlahan tapi pasti melepaskan pengaruh Istanbul. Dan bersamaan dengan industrialisasi Eropa, Maroko pun, seperti juga seluruh wilayah Afrika, menjadi kawasan yang begitu berharga dan penting untuk dikuasai.

Prancis mulai memperlihatkan keinginan mereka menaklukkan Maroko pada tahun 1830. Kekuasaan Prancis di Maroko yang diakui Inggris pada tahun 1904, memancing reaksi keras dari Jerman. Krisis yang terjadi di tahun 1905 pun menghasilkan Konferensi Algeciras di Spanyol tahun 1906.

Dalam konferensi itu, kekuasaan Prancis di Maroko semakin diakui. Krisis politik di Eropa yang dipicu oleh perebutan pengaruh terhadap Maroko di Eropa kembali terjadi pada tahun 1912 setelah Maroko dan Prancis menandatangani Perjanjian Fez yang menjelaskan bahwa posisi Maroko berada di bawah perlindungan Prancis.

Di dalam Perjanjian Fez itu juga disebutkan bahwa bahwa Spanyol memperoleh hak menguasai kawasan selatan Maroko yang terkenal. Kini, tidak aneh jika kemudian pemain Maroko terlihat begitu emosional setelah mengalahkan Spanyol melalui adu penalti 3-0! Tim bertabur bintang La Furia Roja ternyata harus menelan pil pahit selesai di 16 besar.

Maroko yang multi etnis ini menyebabkan lebih dari separuh timnya merupakan mereka yang tidak lahir di Maroko. Namun begitu, banyak dari mereka pula telah malang melintang bermain di liga-liga elit seperti Inggris, Perancis, Jerman dan Spanyol. Mungkin ini salah satu kunci kebangkitan tim asuhan Walid Reragui, pelatih pertama asal Afrika yang mengantarkan Maroko hingga perempat final.

Lantas, apakah kehadiran pemain naturalisasi dapat memperkuat timnas sebuah negara? Beberapa memang sedang trend memasukkan pemain naturalisasi ke dalam timnas mereka. Begitupun yang dilakukan oleh Indonesia. Semoga saja kelak Indonesia mengikuti jejak Maroko, mengalahkan negara yang pernah menjajah Indonesia, Belanda dan Inggris. Siapa tahu.

Bagaimana jika nanti mereka bertemu di perempat final? Siapa yang akan menang undian mengenakan Jersey tuan rumah (kostum utama)? Spanyol terbukti keok saat menggunakan kostum “tamu” (putih). Kadang soal kostum bisa dipercaya membawa keberuntungan (menambah semangat).