Penantian Passarella dan Maradona Selama 36 Tahun Terbayar

Penantian Passarella dan Maradona Selama 36 Tahun Terbayar

Penantian Passarella dan Maradona Selama 36 Tahun Terbayar


Sebulan sebelum penyelenggaraan Piala Dunia Qatar 2022, media lokal maupun internasional ramai membicarakan doa dan harapan warga Argentina yang dianggap aneh. Ya, mereka mendoakan agar timnya yang akan berlaga waktu itu, tidak menjadi juara Piala Dunia. Lha, kok pede sekali menjadi juara? Masuk final saja belum tentu.

Usut punya usut, ternyata Argentina tengah mengalami krisis keuangan dan pangan. Untuk itu warganya mendoakan agar Presiden tidak mengadakan perayaan besar-besaran untuk menyambut Argentina juara. Hal itu dianggap semakin menyulitkan kehidupan rakyat Argentina. Sesederhana itu alasan dari doa mereka.

Awalnya, pada laga perdana Argentina melawan Arab Saudi, sepertinya doa mereka akan terkabul. Argentina terpuruk 1-2, hanya melawan wakil Asia. Argentina pun diprediksi tidak akan bisa melangkah jauh. Bahkan sekadar lolos penyisihan grup sepertinya mustahil. Sebuah ironi. Argentina dengan segala kejayaannya dipandang sebelah mata.

Lionel Messi dkk pada akhirnya membalikkan semua prediksi, yang tadinya dianggap sebagai unggulan, kemudian hanya jadi kuda hitam, lalu balik kembali sebagai unggulan. Bahkan dalam final menghadapi Perancis, Argentina lebih diunggulkan oleh bandar taruhan. Penantian 36 tahun setelah piala dunia terakhir diangkat Maradona (1986).

Sejak kiprahnya dalam piala dunia, Argentina telah 5 kali masuk final dan 2 diantara nya menjadi juara, yakni tahun 1978 dan 1986. Mereka hanya kalah oleh tim besar lain seperti: Brazil, Jerman dan Italia. Belum lagi talenta yang seperti tidak pernah kehabisan stok dari waktu ke waktu. Namun penantian 36 tahun untuk tim sekelas Argentina merupakan waktu yang lama.

Siapa yang tidak kenal dengan Daniel Passarella, seorang pemain bergaya Flamboyan berhasil membawa Argentina juara 1978. Berselang hanya dua periode, berganti sang maestro Diego Armando Maradona persembahkan tropi piala dunia 1986. Selanjutkan, hingga 3 dekade, tahun 90-an, 2000-an dan 2010-an, Argentina puasa juara.

Seorang Gabriel Batistuta (Batigol) pun tak kuasa mengangkat tropi. Lalu muncul Si Wonderkid, Lionel Messi. Namun disayangkan, Messi berhasil memenangkan piala dunia di saat isu yang mengatakan 2022 sebagai piala dunia terakhirnya. Kini Messi sudah memasuki 35 tahun. Jika dipaksakan maka dia berusia 39 dalam piala dunia 2026. Sesuatu yang berat.

Bagaimanapun mini Passarella dan Maradona bisa tersenyum sembari mengucapkan terima kasih kepada Lionel Messi, Si Bocah Ajaib. Messi pun kini berhasil melampaui apa yang pernah dicapai para seniornya, baik dalam koleksi tropi, jumlah gol dan sebagainya. Messi pun berhasil mendobrak kutukan bola emas. Sebelumnya, tidak ada pemain yang meraih bola emas dan timnya juara.

Namun kali ini Messi membuktikan kutukan tersebut tidak benar. Argentina juara dan Messi terpilih sebagai pemain terbaik. Lepas dari semua cibiran pihak yang tidak senang, mengatakan dibantu wasit melalui penalti, anak dan tim kesayangan FIFA, setingan dan sebagainya. Messi bukan pemain dengan tim yang tidak pernah merasakan kalah.

Di ajang Copa Amerika, Argentina pernah gagal dan Messi harus menangis. Pun piala dunia 2018 yang lalu Messi tidak dapat berbuat banyak. Namun prestasi yang sudah dicapai Messi selama berkarier dalam sepakbola bisa dikatakan lengkap. Hanya satu hal yang dia kalah dari satu pemain, yakni Cristiano Ronaldo, dalam jumlah gol.

Hal ini bisa dipahami karena Ronaldo lebih awal memulai kiprahnya. Selisih usia mereka 2 tahun, Messi lebih muda. Netizen pun kini tengah ramai terutama mengolok-olok CR7, yang hingga ujung karirnya belum mendapat tropi piala dunia. Ya, Portugal bukan Argentina yang memang sudah punya sejarah panjang di piala dunia. Berat bagi CR7.

Capaian CR7 untuk level tim sebagai juara Eropa saja sudah merupakan prestasi yang cukup baik bagi Portugal. Namun sekali lagi, keduanya tidak perlu diperbandingkan. Sama juga dulu orang sering membandingkan Pele dan Maradona. Mereka punya nasibnya masing-masing juga punya penggemar masing-masing. Saling menghargai saja. Tidak ada yang sempurna.

Lantas apakah Argentina akan berpesta atas kemenangan tim nya? Alih-alih merayakan, mungkin akan lebih baik jika sebagian hadiah uang yang mereka terima, disumbangkan kepada negara ataupun kepada rakyat yang sangat membutuhkan. Diberitakan kemiskinan di Argentina melonjak tajam akibat krisis global, yang itu mempengaruhi kepada krisis kepemimpinan.

Tim nasional Argentina akan menerima €40,2 juta atau lebih dari Rp 661 Miliar dari FIFA atas kesuksesan memenangkan Piala Dunia 2022 dengan memgalah juara bertahan Perancis 4-2 (adu penalti) di stadion Lusail, Minggu (18/12/2022) malam. Selain itu belum ditambah bonus hak gambar (image rights) pada tahun 2018 dinaikkan menjadi €18 juta.

Dari €20.000 per pertandingan, hak citra ini telah meningkat menjadi hampir €35.000 per pertandingan. Pada akhirnya, setiap juara dunia menerima €545.000 (€300.000 + €245.000) selain jam tangan mewah (diperkirakan bernilai €7.600 per buah) yang diberikan kepada setiap pemain dan anggota staf oleh federasi. Bukankah bisa menguntungkan rakyat Argentina?