Politik Transfer Pemain dan Strategi Manajer di Liga Inggris

Politik Transfer Pemain dan Strategi Manajer di Liga Inggris
Politik Transfer Pemain dan Strategi Manajer di Liga Inggris

Politik Transfer Pemain dan Strategi Manajer di Liga Inggris


Siapa yang bisa menihilkan politik dalam sepakbola? Terlebih sepakbola yang sudah menjadi industri yang menguntungkan seperti sekarang ini? Ya, semua akan berujung kepada cuan, sudah jarang pemilik ataupun pelaku olahraga sepakbola yang murni bicara sport. Semua dari, oleh dan untuk money. Untuk itupun mereka semua “berpolitik”.

Tentu politik sepakbola, yang terkait dalam pengelolaan sebuah team ataupun klub. Karena banyak pula contoh kasus politik transfer pemain sepakbola yang lain, lebih terkait pada penguasa insititusi hingga berimplikasi kepada dunia politik pemerintahan sebuah negara bahkan dunia. Saya tidak bahas itu.

Politik sepakbola yang akan diulas berikut terkait dengan cara, trik dan intrik pengelolaan klub, salah satunya soal transfer pemain. Seperti diketahui, transfer pemain era sekarang ini tidak sesederhana kelihatannya. Ada banyak pihak yang terlibat dan pasti punya kepentingan. Itu berarti akan ada banyak pula uang yang beredar dalam proses tersebut.

Transfer pemain (keluar-masuk, menjual ataupun membeli), selain karena kebutuhan tim, juga menjadi proyek pemilik klub dengan misi tertentu. Manchester United sebagai salah satu klub kaya dan punya nama besar karena prestasinya menjadi salah satu yang menarik diamati dalam proses transfer pemain.

Bermula dari list belanja dan juga penjualan pemain (jika ada penawaran ataupun mendesak ingin melepas). Dari sekian nama dalam list yang dijadikan target pembelian, terutama pemain bintang ataupun penuh talent, pasti menjadi viral dalam pemberitaan. Saya tidak tahu juga apakah media harus mengetahui? Bukankah harusnya rahasia?

Dengan muncul di berita, maka semua pihak akan tahu. Termasuk kompetitor MU, seperti: Liverpool, City, Chelsea, Arsenal dan Spurs. Apakah kompetitor akan diam begitu saja? Pasti tidak. Di sini politik trik dan intrik mulai bekerja. Kompetitor tentu juga ingin teamnya semakin baik dengan kualitas pemain yang mumpuni.

Tapi misi tersebut sekaligus bisa dibuat untuk menggagalkan transfer lawannya, karena khawatir lawan menjadi kuat. Karena banyak peminat, maka klub pemilik pemain yang diincar akan menaikan harga atau juga meminta tambah pemain. Yang pasti klub pemilik hanya akan melepas dengan keuntungan besar.

Bagi klub kaya tentu tidak masalah. Tapi bagi manajer atau pelatih cerdas menilai, pemain bintang dengan harga mahal belum tentu pas dengan vibe atau nuansa klub, pelatihan, pertandingan, dan pastinya dengan pelatih sendiri. Buat apa beli mahal jika floop? Di MU sendiri di masa pelatih sebelum Erik Ten Hag, ada pemain bintang yang floop.

Katakan saja Harry Maguire, Jadon Sancho, Van de Beek, Pogba, hingga Ronaldo. Sebaliknya, banyak pemain target MU yang seolah susah sekali didapatkan, hingga pada akhirnya justru dilepas ke klub pesaing, sebut saja: Darwin Nunez, Gakpo (keduanya ke Liverpool), dan Joao Felix (Chelsea). Bahkan kiper cadangan Newcastle ditarik kembali dari MU.

Tujuannya jelas agar MU menjadi lemah, dan memiliki pemain apa adanya. Tidak punya kedalaman skuat. Namun belakangan muncul rumor, bahwa pemain-pemain tersebut sengaja dilepas ETH, kenapa? Karena ETH sesungguhnya tidak terlalu membutuhkan. Rencana transfer hanya untuk memancing lawan agar mereka mengacau, menghambat dan jika perlu menelikung.

ETH dinyatakan malah senang karena menurutnya Liverpool justru terjebak sendiri oleh rencananya ingin menjegal MU. Nunez dan Gakpo hingga kini masih belum berkontribusi terhadap klub. Bahkan posisi Liverpool terus melorot ke urutan 9, tepat di atas Chelsea. Sedangkan MU yang selektif memilih pemain: Anthony, Casemiro, Malacia dan Eriksen plus pemain muda akademik MU, relatif aman.

Red Devils justru melesat tiga besar setelah sempat di dasar klasemen pada awal kompetisi. ETH juga mengurangi pemain yang dinggap membebani klub, yakni: Ronaldo diputus kontrak, dan Jadon Sancho yang hingga kini masih diisolasi berlatih terpisah. MU kini berfilosofi tanpa pemain bintang, tetapi pemain yang pas dan siap bertanding.

Jika ditanya, apakah Jurgen Klopp merasa menyesal telah merekrut Nunez dan Gakpo dengan mahal? Bagaimana pula dengan Nunez dan Gakpo sendiri, apakah mereka sudah benar pilih klub untuk pengembangan karir mereka? Mau menyesal pun percuma karena sudah terjadi dan kompetisi masih bergulir. Yang pasti ruang ganti Liverpool tengah kacau akibat politik transfer.